Tampilkan postingan dengan label muslim. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label muslim. Tampilkan semua postingan

Sabtu, 29 Oktober 2011

PENGERTIAN HUKUM

PENGERTIAN HUKUM


 

Hukum ialah :

اِثْبَاتُ اَمْرٍاِلىٰ اٰخَرَ اِيْجَابًااَوْسَلَبًا

Menetapkan suatu perkara kepada perkara yang lain ada ataupun tiada (positif atau negatif)

Contohnya , menetapkan sesuatu itu merah atau tidak , sesuatu itu benar atau salah, pekerjaan wajib atau tidak, halal atau haram, pekerjaan sunat atau makruh, dsb.


 

Hukum terbagi menjadi tiga macam

  1. Hukum Syara' yaitu hukum Allah yang terbagi kepada wajib, haram, sunat, makruh, dan mubah (halal atau jaiz)
    1. Arti wajib menurut syara' ialah setiap perkara yang harus dikerjakan dengan ketentuan, berpahala mengerjakannya dan berdosa mengerjakannya, seperti shalat lima waktu, puasa ramadhan, menutup aurat, dll
    2. Arti haram menurut hukum syara' ialah setiap perkara yang tidak boleh dikerjakan atau harus ditinggalkan dengan ketentuan, berpahala meninggalkannya dan berdosa mengerjakkannya, seperti: berzina, mencuri, mengumpat orang lain, berdusta, dll.
    3. Arti sunat menurut hukum syara' ialah setiap perkara yang baik dikerjakan dengan ketentuan, berpahala mengerjakannya dan tidak berdosa meninggalkannya, seperti: mengucapkan salam, memakai wewangian, dll.
    4. Arti makruh menurut hukum syara' ialah setiap perkara yang tidak baik dikerjakan dan berpahala jika meninggalkannya, seperti: tidur sambil telungkup, buang air kecil / besar sambil bicara, makan makanan yang berbau, dsb.
    5. Arti mubah menurut hukum syara' ialah setiap perkara yang boleh dikerjakan dan boleh pula ditinggalkan, seperti: berpakaian yang bagus, makan makanan yang lezat, mempunyai kendaraan yang bagus, dsb.
  2. Hukum akal yaitu, hukum yang berdasarkan hasil pemikiran manusia, terbagi menjadi tiga macam, yaitu: wajib, mustahil ( tidak dimengerti oleh akal) , jaiz ( bisa dimengerti ada atau tiadanya).
    1. Arti wajib menurut akal ialah sesuatu yang mesti ada dan tidak dapat dipahami kalau tidak ada, seperti: bagi setiap wujud (sesatu benda) wajib mempunyai tempat tinggal, tidak dapat dipahami jika tidak mempunyai tempat tinggal, wajib adanya yang membuat setiap makhluk, dsb.
    2. Arti mustahil menurut akal ialah, sesuatu yang tidak dimengertioleh akal adanya, seperti: benda itu tidak diam dan tidak bergerak. Kalau ada benda yang demikian, tidak dapat dimengerti , yakni, mustahil menurut akal, sebab, setiap benda itu wajib diam atau bergerak. Kalau diam pastilah tidak bergerak. Kalau bergerak pastilah tidak diam. Atau seperti: benda itu tidak ada yang membuat, itu hal yang mustahil menurut akal.
    3. Arti jaiz menurut akal ialah sesuatu yang dapat dimengerti ada ataupun tiadanya, seperti: benda itu diam atau bergerak, orang itu hidup sebab ia bernafas atau orang itu mati sebab sudah tidak bernafas. Hal-hal seperti ini bersifat jaiz yakni dapat dimengerti.
  3. Hukum adat, ialah hukum yang berdasarkan kebiasaan karena sering terjadi, sehingga akhirnya dijadikan hukum menurut adat. Contoh : api memanaskan, makanan mengenyangkan, air menyegarkan, golok dpat melukai atau memotong, obat bisa menyembuhkan, dsb.

    Hukum adat karena kebiasaan saja, pada hakekatnya tidak selalu demikian, sebab ada kalanya orang dibacok atau ditembak tidak mempan, orang sakit diobati tidak sembuh bahkan terus mati, orang dibakar tidak hangus sperti Nabi Ibrahim As dan sebagainya, suatu kejadian yang di luar kebiasaan. Sebab pada hakikatnya, bukan makanan yang menguatkan badan, bukan air yang menyegarkan, bukan obat yang menyembuhkan, bukan api yang memanaskan atau menghanguskan, melainkan semua kejadian ditentukan oleh Allah Zat Yang Mahakuasa.

    Hanya sala biasanya, bila orang makan, Allah menjadikan kenyang atau kuat, bila orang minum, Allah menjadikan segar, bila kena atau menyentuh api, Allah menjadikan hangus, bila orang menanam bibit tanaman, Allah menjadikan tanaman itu tumbuh, bila orang belajar ilmu, Allah memberi ilmu, bila orang sakit diobati, Allah menjadikan ia sembuh. Bila Allah tidak menjadikan apa-apa terhadap orang yang berbuat sesuatu, seperti yang tersebut di atas, maka orang tersebut tidak merasakan atau tidak mengalami perubahan apapun. Yakni, obat tidak menyembuhkan dengan sendirinya, api tidak dapat menhanguskan atau memanaskan dengan sendirinya, dan sebagainya.

    Sungguh banyak kejadian yang menyalahi adat kebiasaan, terutama yang dialami oleh para rasulullah dengan mukjizatnya, para waliyullah dengan keramatnya, oleh orang mukmin dengan maunatnya dan oleh orang fasik dengan istidrajnya. Karena itu menjadi bukti bahwa benda benda itu pada hakekatnyya tidak mempunyai kekuatan atau kekuasaan, ia hanya sebagai alat saja. Adapun kekuatan dan kekuasaan yang mutlak, hanya ada pada Allah swt. Semua benda atau makhluk itu hanya sebagai penyebab belaka.


     

    يَجِبُ عَلىٰ كُلِّ مُكَلَّفٍ اَنْ يَعْرِفَ مَايَجِبُ فِىْ حَقِّهٖ تَعَالىٰ وَمَايَسْتَحِيْلُ وَمَايَجُوْزُ


     

    Wajib bagi setiap orang mukallaf (dewasa) mengetahui semua sifat yang wajib, perkara yang mustahil, serta jaiz pada hak Allah swt.

    Kewajiban mengetahui itu dengan pengetahuan dan pendirian yang kokoh atau kuat yang tidak mengandung keragu-raguan sedikitpun. Yakni berdasarkan keyakinan hati yang mantab dan dalil-dali yang kuat, baik dalil naqli dari Qur'an atau dalil 'akli ( hasil pemikiran ). Sebab, setiap kepercayaan tanpa dalil adalah kepercayaan yang hampa sebab tanpa dasar, bahkan dpat dikatakan khayalan belaka.


     


     


     


     


     


     

Sabtu, 15 Oktober 2011

Ka’bah


 

Ka'bah Rumah Tua Yang Suci


 

Allah SWT. Berfirman dalam surat Al Baqarah ayat 125: "Dan ingatlah ketika Kami menjadikan rumah itu (Baitullah) tempat berkumpul bagi manusia dan tempat yang aman. Dan jadikanlah sebagian maqam Ibrahim tempat shalat. Dan telah kami perintahkan kepada Ibrahim dan Ismail: "Bersihkanlah rumah-Ku untuk orang-orang yang thawaf, i'tikaf, ruku, dan sujud." Kemudian Allah SWT berfirman lagi pada ayat 127 surat Al Baqarah: "Dan ingatlah ketika Ibrahim meninggikan dasar-dasar Baitullah bersama Ismail seraya berdoa:"Ya Tuhan Kami terimalah dari pada kami amalan kami, sesungguhnya Engkaulah Yang Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui."

Dari kedua ayat ini dapat kita ambil penjelasan bahwa yang pertama sekali menegakkan dinding Ka'bah yang suci sebagai tempat beribadah bagi manusia adalah nabi Ibrahim dan anak sulung beliau yang bernama nabi Ismail.

Akan tetapi, menurut beberapa hadits sebenarnya lantai dasar Ka'bah (fundasi Ka'bah) telah ada jauh sebelum manusia dikirim Allah SWT. ke dunia ini. Fundasi ini dibangun oleh para malaikat yang diutuskan Allah ke dunia ini. Kemudian tempat ini juga digunakan oleh nabi Adam AS., istri beliau, Hawa, serta anak cucu beliau semuanya untuk beribadah kepada Allah. Hanya saja dinding yang kokoh dari fundasi ini dibangun oleh nabi Ibrahim AS. dan nabi Ismail AS..

Dengan demikian Ka'bah adalah sebuah rumah kuno (Baitul 'Atiq) yang pertama sekali dibangun di dunia ini sebagai tempat beribadat menyembah Allah SWT..

Beberapa orang Orientalis membantah keberadaan Ka'bah sebagai tempat ibadah yang menyembah Tuhan Yang Tunggal menurut ajaran nabi Ibrahim, dengan alasan di sekitar Ka'bah belakangan penuh dengan berhala dan manusia yang mengabdikan diri kepada berhala-berhala tersebut. Padahal kehadiran berhala-berhala tersebut terjadi setelah wafatnya nabi Ibrahim dan nabi Ismail. Apalagi pada abad-abad tersebut memang terbukti telah datang nabi-nabi lain di sekitar Arabia yang juga menyeru pada Tuhan Yang Tunggal.

Nabi-nabi tersebut adalah Hud AS. diutus kepada kaum 'Ad yang tinggal di utara Hadhralmaut, juga nabi Shaleh AS. yang diutus pada kaum Tsamud yang tinggal di daerah Hijr antara Hijaz dan Syam. Kemudian nabi Syu'aib yang diutus kepada bangsa Madyan, di daerah Hijaz, dekat Jordania sekarang. Para utusan ini seharusnya juga menjadi bukti bahwa di daerah jazirah Arab memang pernah bertubi-tubi disebarkan ajaran tauhid. Dan, seandainya tersebar kembali ajaran kemusyrikan sesudah mereka, tidaklah berarti ajaran agama tauhid tidak pernah wujud disitu.


 

Ka'bah Sebagai Pusat peribadatan

Secara turun temurun Ka'bah tetap berfungsi sebagai pusat peribadatan bangsa Arab, baik mereka yang menyembah Tuhan yang Tunggal ataupun mereka yang sudah terpengaruh dengan agama musyrik. Sedangkan orang yang mendapat kehormatan sebagai penjaga ka'bah adalah mereka yang memang terpandang dari segi keturunan, harta, akhlak dan prilaku dalam keseharian.

Jabatan menjaga ka'bah tetap dipegang nabi ismail dan keturunan beliau dari suku Jurhum selama berabad-abad. Meskipun Mekkah pernah dikuasai oleh bangsa Amalekit, akan tetapi penguasaan atas Ka'bah tidak pernah bergeser dari keturunan Nabi Ismail AS. Sampai sekitar pertengahan abad kelima, pimpinan Quraisy bernama Qushay telah memegang jabatan penting dalam masyarakatnya, termasuk jabatan mengurus Ka'bah ini.

Ada beberapa jabatan penting kala itu, antara lain: hijaba, yaitu penjaga pintu Ka'bah, Siqaya, pemberi minum para penziarah ka'bah,Rifada, memberi makanan kepada penziarah, Nadwa, pimpinan rapat besar kaum Quraisy, Liwa', penancap bendaera perang, dan Qiyada, yaitu pimpinan pasukan perang. Pada abad kelima semua jabatan ini pernah dipegang oleh Qushay seorang diri. Qushay ini adalah nenek nabi Muhammad SAW pada generasi kelima. Lengkapnya Muhammad bin Abdullah,bin
Abdul Muthallib, bin Hasyim,bin Abdi manaf, bin
Qushay.

Kelak jabatan ini dibagi dua antara keturunan Abdi Manaf dengan Abdid- Dar sampai datangnya Islam.

Ka'bah akhirnya menjadi kiblat umat Islam dalam menjalankan ibadah sholat sehari-hari. Meskipun ketika dikuasai kaum Kuffar bertaburan patung-patung sesembahan mereka di dalam dan diluar Ka'bah, namun kaum muslimin saat itu tetap menjadikan Ka'bah sebagai kiblat dalam sholat.

Pernah kiblat berpindah menghadap Baitul Maqdis di Palestina saat nabi telah hijrah ke Palestina selama 16 atau 17 bulan, namun, kemudian atas perintah Allah dalam al Qur'an surat Al Baqarah ayat 144, kiblat kembali di arahkan ke ka'bah yang suci ini.

Akhirnya, setelah Islam menguasai Ka'bah seluruh patung-patung kaum musyrikin dibersihkan dari sana. Dan sejak itu secara abadi, Ka'bah menjadi kiblat umat Islam sedunia. Sampai-sampai mayat kaum muslimin dalam kuburpun dibaringkan menghadap kepadanya.


 


 


 


 

Selasa, 11 Oktober 2011

Abu Bakar


 


 

Sosok Abu Bakar Shiddiq


 

Abu Bakar Shiddiq Radhiyallahu 'anhu adalah sahabat Nabi yang paling utama. Beliau adalah orang pertama yang memeluk Islam dari kalangan para sahabat Nabi, di samping Khadijah Radhiyallahu 'anha istri Rasul, dari golongan kaum wanita, dan Ali bin Abi ThalibRadhiyallahu 'anhu dari golongan kerabat Nabi.

Usia Abu Bakar Shiddiq hanya berbeda dua tahun satu bulan, lebih muda dari Nabi Muhammad Saw. Beliau dilahirkan di Mekkah dan diberi nama Abdul Ka'bah. Setelah masuk Islam, nama tersebut diganti menjadi Abdullah. Adapun nama Abu Bakar diberikan kepada beliau sebagai sebuah penghormatan dari kaum muslimin kepada beliau, karena keberadaan putri beliau Aisyah Radhiyallahu 'anha, sebagai satu-satunya istri Baginda Rasul yang dinikahi beliau dalam keadaan masih perawan. Sebagaimana dimaklumi seluruh istri Nabi dinikahi dalam keadaan janda kecuali Aisyah Radhiyallahu 'anha.

Dalam bahasa Arab anak perawan disebut 'Bikrun'. Abu Bakar (Abu Bakrin), dalam bahasa Indonesia berarti 'Bapak Sang Perawan', sebuah gelar kehormatan dari kaum muslimin.Nama lengkap beliau adalah Abu Bakar, Abdullah bin Abu Quhafah Usman bin Amir bin Ka'ab bin Sa'ad bin Tamim bin Murrah. Ibu beliau bernama Ummi Khair, Salmah binti Sakhar bin Ka'ab bin Sa'ad bin Tamim bin Murrah. Moyang beliau yang bernama Murrahini juga merupakan moyang Nabi kita Muhammad SAW.

Sebelum adanya Islam, di zaman Jahiliyah beliau pernah menikah dengan dua orang wanita. Yang pertama adalah Qatilah binti Abdul Izzi dan memberinya dua orang anak yaitu,Abdullah dan Asma'. Ada satu riwayat yang mengatakan bahwa Abu Bakar menceraikan Qatillah binti Abdul Izzi setelah beliau masuk Islam. Yang kedua adalah Ummu Rumman binti Amir dan memberinya dua orang anak pula yaitu Abdurrahman dan Aisyah. Belakangan di masa Islam, pada usia yang sudah tua, (menurut satu riwayat setelah Ummi Rumman wafat), beliau sempat menikah lagi dengan dua orang wanita setelah Ummu Rumman wafat yaitu pertama, Habibah binti Kharijah al Anshori dan memberinya seorang putri bernamaUmmu Kultsum yang lahir setelah beliau wafat. Dan yang kedua adalah Asma' binti Umaisdan memberinya seorang anak laki-laki bernama Muhammad bin Abu Bakar, lahir pada tahun 10 Hijriyah (beliau ini dikenal sebagai da'i besar yang mengislamkan benua India).

Penampilan fisik Abu Bakar Radhiyallahu 'anhu tampan, berkulit putih, wajahnya cerah dan lembut sedikit membungkuk dan tidak pernah membiarkan sarungnya melorot sampai ke pinggang. Wajah beliau bujur sirih, matanya cekung, dahinya sedikit menonjol dan pangkal-pangkal jarinya kokoh.

Julukan beliau yang paling terkenal adalah As-Shiddiq yang berarti jujur dan membenarkan.Kejujuran beliau sangat terkenal melekat erat dalam kehidupan sehari-hari beliau, sehingga Allah pun memuji beliau sebagai orang yang jujur dalam Firman-Nya: "Dan orang yang datang dengan kejujuran dan membenarkannya mereka adalah orang-orang yang bertakwa. Mereka berhak atas segala sesuatu yang ada di sisi Tuhan mereka sesuai dengan kehendak mereka. Itulah balasan bagi orang yang berbuat baik."  (QS. Az Zumar: 33 – 34)

Beliau sangat membenarkan Nabi, bahkan pada saat  sebagian kaum muslimin ada yang murtad, sedangkan orang-orang kafir Quraisy mengejek dan menghina Nabi seketika Nabi baru menceritakan kepulangan beliau dari perjalanan jauh yang ditempuh dalam semalam, yakni Palestina, pada peristiwa Isra' dan Mi'raj. Ketika disampaikan kepada beliau kabar yang tidak dapat diterima akal ini, dengan tegas beliau menjawab, "Aku percaya kepada Nabi, bahkan andaikata beliau mengatakan telah melakukan perjalanan lebih jauh dari Palestina dalam waktu semalam. Aku sungguh percaya bahwa beliau telah menerima kabar dari langit baik pagi maupun petang…!" Hal ini sesuai dengan penuturan Siti  Aisyah, dan karena itu pula beliau digelari As-Shiddiq (H.R. Hakim, dishahihkan oleh Adz Dzahabi, Jilid III halaman 62 – 63).

Julukan lain, diberikan Allah kepada beliau sebagai seorang "Sahabat" NabiHal ini terjadi pada saat beliau menemani Nabi bersembunyi di gua Tsur selama tiga hari tiga malam untuk menghindari kejaran kaum Quraisy. Firman Allah: "…… Sedang dia salah seorang dari dua orang ketika keduanya berada di dalam gua. Ketika itu, dia (Nabi) berkata kepadaSahabatnya, "janganlah bersedih, sesungguhnya Allah bersama kita….." (QS. At Taubah: 40).

Julukan lain yang diberikan kepada Abu Bakar Shiddiq adalah 'al Atqa ', yaitu manusia yangpaling bertakwa. Julukan ini diabadikan Allah dalam Al Qur'an: "Dan kelak akan dijauhkanorang yang paling bertakwa itu dari neraka, yaitu yang menafkahkan hartanya untuk mensucikan dirinya" (QS. Al Lail: 17 – 18). Para muffasirin menunjuk bahwa orang yang paling bertakwa yang dimaksudkan ayat ini adalah Abu Bakar Shiddiq.

Suatu hari Nabi bersabda kepada Sayyidina Abu Bakar, "Engkau adalah hamba Allah yang dibebaskan-Nya dari api neraka" (H.R. Ibnu HibbanShahih Jilid 15 halaman 280). Karena itu pula beliau digelari pula al 'Atiq, yakni orang yang terbebas dari neraka.

Dalam kitab Tabaqat Ibnu Sa'ad jilid 3 halaman 127, diceritakan bahwa Sayyidina Ali bin Abi Thalib berkhutbah, "Sesungguhnya Abu Bakar adalah seorang Al Awwabul Munib" , yaitu orang yang senantiasa taubat tunduk dan patuh kepada Allah karena mengagungkan-Nya serta malu pada-Nya".

Abu Bakar Shiddiq Radhiyallahu 'anhu tercatat dalam sejarah telah berjuang mati-matian untuk agama ini, dengan mengorbankan seluruh harta beliau sehabis-habisnya. Pada awal mula masa Islam beliau termasuk salah satu dari orang yang terkaya di Mekkah. Namun, saat beliau wafat beliau sama sekali tidak memiliki harta apa-apa. Seluruh harta yang tersisa beliau kembalikan ke Baitul Mal beberapa saat sebelum beliau wafat. Warisan yang beliau tinggalkan hanyalah setengah dirham, itu pun diberikan bukan kepada keluarga beliau, tetapi diberikan kepada Khalifah penggantinya. Saat dilantik menjadi pengganti Abu Bakar, Umar bin Khattab menangis tersedu-sedu seraya memegang uang setengah dirham itu. Dan Umar berkata, "Wahai Abu Bakar sungguh engkau telah menunjuki sebuah jalan yang tersangat sulit untuk aku lalui……!"

Jasa beliau yang paling besar adalah memerintahkan Zaid bin Tsabit dalam sebuah panitia kecil untuk membukukan Al Qur'an lengkap dari awal sampai khatam. Andai saja penulisan Al Qur'an itu tidak beliau perintahkan, kita tidak tahu bagaimana nasib Al Qur'an saat ini.

Kemuliaan tertinggi yang dijanjikan Nabi kepada Sayyidina Abu Bakar, bahwa beliau akan dipanggil oleh seluruh pintu surga yang ada, yang mana beliau berhak memasuki pintu mana saja yang beliau kehendaki. Subhanallah……

Beberapa kali Nabi pernah mengangkat beliau sebagai Imam sholat bagi kaum muslimin, manakala Nabi berhalangan menjadi Imam. Dari hal inilah kemudian atas usulan Sayyidina Umar kaum muslimin mengangkat beliau sebagai Khalifah Rasulullah memimpin kaum muslimin, meneruskan kepemimpinan Nabi setelah baginda Rasul wafat.

Sayyidina Abu Bakar Shiddiq Radhiyallahu 'anhu wafat dua tahun setelah Rasulullah wafat, dalam usia 63 tahun juga, dan dikuburkan di kamar tidur Siti Aisyah, putri beliau tercinta, tepat di sisi kubur manusia agung yang menjadi junjungan beliau, yaitu Baginda Nabi Muhammad Saw.

Adakah lagi pemimpin seagung beliau saat ini….?  

Wallahu A'lam bishshowab

Dari www.tengkuzulkarnain.net

Sabtu, 08 Oktober 2011

Uzair

Kisah Uzair

Ishaq bin Bisyr berkata : Sa'id bin Basyir telah mengabarkan kepada kami dari Qatadah dari Ka'ab dari Sa'id dari Abu 'Urubah dari Qatadah dari al Hasan dari Muqatil dari Juwaibir dari Adh Dahak dari Ibnu Abbas dan Abdullah bin Ismail as Suddiy dari ayahnya dari Mujahid dari Ibnu Abbas dari Idris dari kakeknya dan Wahb bin Munabbih, Ishaq berkata : Mereka semua telah menceritakan kepadaku tentang Uzair. Satu sama lain saling menambahkan, mereka berkata dengan sanad mereka sendiri: Bahwasanya Uzair adalah seorang hamba yang shalih lagi bijaksana.

Pada suatu hari ia keluar ke persawahan yang senantiasa ia kerjakan. Ketika berangkat ia singgah di sebuah bangunan yang telah porak poranda di waktu tengah hari dan panas mulai menyengatnya. Ia masuk ke dalam bangunan yang telah porak poranda tersebut sedang ia masih di atas keledainya. Lalu ia turun dari keledai dan membawa sebuah keranjang yang berisikan buah tiin dan satu keranjang lagi yang berisi buah anggur. Kemudian ia berteduh di bawah bayangan bangunan tersebut dan mengeluarkan nampan yang ia bawa. Lalu ia memeras anggur yang ia bawa di nampan tersebut. Lalu ia mengeluarkan roti kering dan mencelupkannya ke dalam perasan anggur tersebut untuk ia makan. Lantas ia merebahkan tengkuknya dan menyandarkan kakinya ke tembok seraya memandang atap rumah tersebut dan memandang segala yang ada di dalamnya yang roboh yang temboknya telah roboh menutupi atapnya. Ia melihat penghuninya yang telah musnah dan tulang belulang berserakan. Dia berkata: "Bagaimana Allah menghidupkan kembali negeri ini setelah hancur?"

Ia bukan berarti meragukan bahwa Allah akan menghidupkannya kembali, namun ia merasa takjub. Maka Allah mengutus malaikat untukmencabut nyawanya, lalu Allah mematikannya selama seratus tahun. Setelah seratus tahun berlalu, sedangkan di kalangan Bani Israil telah terjadi berbagai peristiwa dan kejadian besar.

Ia berkata: Lalu Allah mengutus malaikat kepada Uzair. Malaikat tersebut membuat hatinya agar berakal, matanya yang dapat memandang sehingga ia memahami bagaimana Allah menghidupkan orang yang telah mati. Kemudian malaikat tersebut menyusun jasadnya sedangkan Uzair melihatnya dengan matanya. Kemudian membalut tulangnya dengan daging, rambut dan kulit, lalu ditiupkan ruh kedalamnya. Semua kejadian tersebut ia dapat melihatnya dan berfikir. Setelah selesai ia pun duduk dan malaikat tadi bertanya: " Berapa lama kamu tinggal di sini?" Ia menjawab:" Saya telah tinggal di sini sehari atau setengah hari". Sebab ia tidur di siang hari dan dibangkitkan kembali di sore hari sebelum matahari tenggelam. Ia berkata: "Aku tinggal di sini hanya setengah hari saja dan tidak genap satu hari penuh."

Malaikat tadi berkata: "Sebenarnya kamu telah tinggal di sini seratus tahun lamanya, lihatlah kepada makan dan minumanmu, yaitu roti kering dan air perasan anggur yang ia peras. Keduanya belum lagi berubah. Seolah-olah dalam hati Uzair mngingkari hal tersebut, maka malaikat tersebut berkata: "Apakah kamu mengingkari apa yang aku katakan kepadamu? Lihatlah keledaimu yang telah menjadi tulang belulang dan telah hancur itu."

Malaikat tersebut menyeru kepada tulang-tulang keledai tersebut dan tulang-tulang tersebut datang dari segala arah. Lalu malaikat tadi menyusun kembali tulang-tulang tersebut dan menumbuhkan bulu dan kulit padanya. Lalu malaikat meniupkan ruh kepadanya sehingga keledai tersebut bangkit dan mengangkat kepala dan telinganya ke langit mengira bahwa hari kiamat telah tiba.

Oleh karenanya, Allah berfirman yang artinya: "Dan lihatlah kepada tulang belulang keledai itu, kemudian Kami menyusunnya kembali, kemudian Kami membalutnya dengan daging". (QS. Al Baqarah: 259)

Yaitu lihatlah kepada tulang belulang keledaimu bagaimana Kami menyusunnya kembali satu sama lain di tempatny semula sehingga ia menjadi susunan tulang keledai tanpa daging. Lalu lihatlah bagaimana Kami membalutnya dengan daging.

Firman Allah Ta'ala (artinya): Maka tatkala telah nyata kepadanya (bagaimana Allah menghidupkan yang telah mati) dia pun berkata: "Saya yakin bahwa Allah Maha Kuasa atas segala sesuatu," untuk menghidupkan yang mati dan yang lainnya.

Lalu Uzair menaiki keledainya untuk mendatangi rumahnya. Namun orang-orang tidak mengenalnya dan ia pun tidak mengenal mereka. Akhirnya Uzair mendatangi rumahnya. Ternyata di rumahnya tersebut terdapat seorang wanita tua yang buta yang berusia seratus dua puluh tahun tengah duduk di rumah tersebut. Wanita tersebut dulunya adalah budak mereka. Uzair meninggalkan kaumnya ketika wanita tersebut berumur dua puluh tahun yang sebelumnya mengenal Uzair. Ketika telah tua maka ia menjadi pikun.

Uzair berkata kepadanya: "Wahai ibu, apakah ini rumah Uzair?" Wanita tersebut menjawab: "Benar. Ini adalah rumah Uzair." Wanita tersebut menangis seraya berkata: "Aku belum pernah mendengar seseorang yang menyebut nama Uzair. Orang-orang telah melupakannya. " Uzair berkata: "Aku adalah Uzair. Allah telah mematikanku selama seratus tahun kemudian menghidupkanku kembali." Wanita tadi berkata: "Subhanallah, kami telah kehilangan Uzair selama seratus tahun dan kami tidak mendengar beritanya lagi." Uzair berkata: "Aku Uzair." Wanita tadi berkata: "Uzair adalah seorang yang mustajab doanya. Ia senantiasa mendoakan yang sakit dan tertimpa musibah untuk diberikan kesehatan dan kesembuhan. Berdoalah kepada Allah agar mengembalikan penglihatanku sehingga aku dapat melihatmu." Bila benar kau adalah Uzair maka aku akan mengenalimu.

Lalu Uzair berdoa kepada Allah dan mengusapkan tangannya di kedua mata wanita tadi dan langsung sembuh. Kemudian ia memegang tangannya seraya berkata: "Bangkitlah dengan seijin Allah." Maka Allah menyembuhkan kakinya dan ia pun dapat berdiri seperti sedia kala seolah-olah ia lepas dari ikatan. Ia melihat Uzair dan berkata: "Aku bersaksi bahwa kamu adalah Uzair."

Lalu wanita tadi pergi ke tempat perkumpulan orang-orang bani Israil sedangkan mereka tengah di tempat perkumpulan mereka. Anak Uzair adalah seoarang yang telah berusia seratus delapan belas tahun sedangkan cucunya adalah pemuka di majelis tersebut. Wanita tadi berkata: "Ini Uzair telah datang kepada kalian." Namun mereka mendustakannya. Wanita tadi berkata: "Saya adalah fulanah, seorang budak wanita kalian. Uzair telah berdoa kepada Allah sehingga Allah mengembalikan penglihatanku dan menyembuhkan kakiku. Ia berkata bahwasanya Allah telah mematikannya selama seratus tahun lalu menghidupkannya kembali."

Maka orang-orang pun mendatanginya dan anaknya berkata: "Ayahku memiliki tanda hitam di antara kedua pundaknya." Uzair pun membuka dan ternyata ia benar-banar Uzair.orang-orang Bani Israil berkata: "Di antara kami tidak ada yang hafal Taurat yang telah dibacakan oleh Uzair kepada kami. Namun, Bukhtanashr telah membakar Taurat dan tidak tersisa kecuali sedikit yang dihafal oleh sebagian orang. Maka tuliskanlah kembali untuk kami." Di masa Bukhtanashr, ayahnya Uzair, Sarukha, telah menyembunyikan Taurat dengan cara ditanam di suatu tempat yang tidak yang mengetahui kecuali Uzair. Maka Uzair pergi bersama mereka ke tempat tersebut, lalu menggali dan mengeluarkan Taurat dari dalam tanah. Kertas tersebut telah membusuk dan tulisannya telah terhapus.

Uzair duduk di bawah pohon untuk memperbaharui Taurat, sedangkan orang-orang Bani Israil berada di sekelilingnya. Tiba-tiba turunlah dua anak panah dari langit masuk ke dalam tenggorokan Uzair. Ia pun menyebutkan isi Taurat dan memperbaharuinya bagi Bani Israil. Dari sanalah orang-orang Yahudi mengatakan: "Uzair anak Allah." Karena melihat peristiwa dua anak panah yang turun dari langit tersebut serta usahanya memperbaharui Taurar dan mengurusi segala permasalahan Bani Israil. Ia memperbaharui Taurat di daerah as Sawad di rumah Hizqil. Sedangkan daerah tempat ia meninggal bernama Sayar Abadz.

Ibnu Abbas berkata: "Hal ini sebagaimana difirmankan oleh Allah Ta'ala : "Kami akan menjadikan kamu tanda kekuasaan Kami bagi manusia." Yaitu Bani Israil. Yaitu ketika ia duduk bersama anak-anaknya yang telah berusia lanjut sedangkan ia masih muda. Sebab ketika anak-anaknya meninggal, ia baru berumur empat puluh tahun. Lalu Allah mengutus seorang pemuda yang sepadan dengan dirinya ketika ia meninggal dunia. Ibnu Abbas berkata: "Ia diutus setelah masa Bukhtanashr." Demikian halnya yang diungkapkan oleh al Hasan. Abu Hatim as Sajastaniy mengungkapkan sebuah syair yang mengandung makna seperti yang diungkapkan oleh Ibnu Abbas:

Rambutnya masih hitam yang di dahului oleh anaknya

Bahkan didahului oleh cucunya, padahal ia lebih tua

Ia melihat anaknya telah usia lanjut berjalan dengan tongkatnya

Padahal jenggotnya masih hitam kepalanya masih kuat

Anaknya tidak lagi memiliki kekuatan dan tidak memiliki keutamaan di tengah-tengah kaumnya

Sebagaimana seorang anak yang tertatih tatih dan sangat susah

Anaknya telah berusia sembilan puluh tahun

Padahal ia belum genap dua puluh tahun

Sedangkan usia ayahnya baru empat puluh tahun

Cucunya berusia sembilan puluh tahun

Bila kamu mengetahuinya niscaya tidak mempercayainya

Namun bila kamu tidak tahu, maka karena kebodohanlah kamu memiliki uzdur


 

Kenabian Uzair

Yang masyur bahwasanya Uzair adalah seorang Nabi dari Nabi-Nabi Bani Israil. Ia hidup antara masa Nabi Daud dan Sulaiman serta antara Nabi Zakariya dan Yahya. Tatkala di tengah-tengah Bani Israil tidak ada lagi yang menghafal Taurat, maka Allah mengilhamkan kepadanya untuk menghafalnya dan menyampaikannya kepada Bani Israil. Sebagaimana yang diungkapkan oleh Wahb bin Munabbih: " Allah memerintahkan salah satu malaikat untuk turun membawa segayung cahaya dan memasukkannya ke dalam diri Uzair. Kemudian Uzair menyalin Taurat huruf demi huruf hingga selesai.

Ibnu Asakir meriwayatkan dari Ibnu Abbas bahwasanya ia bertanya kepada Abdullah bin Salaam perihal firman Allah Ta'ala: "Orang-orang Yahudi berkata: "Uzair putera Allah. " kenapa mereka mengatakan demikian ?" Ibnu salaam menyebutkan kepadanya bahwasanya ketika Uzair menulis Taurat dari hafalannya , maka Bani Israil berkata: "Musa hanya bisa memberikan Taurat kepada kita melalui tulisannya, namun Uzair memberikan Taurat kepada kita tanpa tulisan (kitab)." Maka sekelompok orang mengatakan bahwa Uzair putera Allah.

Oleh karenanya manyiritas ulama menyatakan : "Turun-temurunnya Taurat terputus hingga masa Uzair. Hal ini sejalan dengan pendapat bahwa Uzair bukan Nabi, sebagaimana yang diungkapkan oleh Atha' bin Abi Rabah dan al Hasan al Basri.

Ishaq bin Bisyr meriwayatkan dari Muqatil bin Sulaiman dari Atha' dan dari Utsman bin Atha' al Khurasaniy dari ayahnya. Sedangkan Muqatil dari Atha' bin Abi Rabah, ia berkata: "Pada masanya terdapat sembilan kejadian besar: Bukhtanashr, kebun Shan'a, kebun Saba', Ashabul Ukhdud, Hashur, Ashabul Kahfi, Ashabul Fil, kota Anthakiyah, kejadian Taba'.

Ishaq bin Bisyr berkata: S'id telah mengabarkan kepada kami dari Qatadah dari al Hasan, ia berkata: "Kejadian Bukhtanashr terjadi pada satu masa."

Dalam hadits shahih disebutkan, bahwa Nabi SAW bersabda: "Sayalah yang paling berhak atas diri Isa. Tidak ada Nabi antara diriku dan Isa."

Ibnu Asakir telah meriwayatkan dari Anas bin Malik dan Atha' bin as Saaib bahwa Uzair berada di masa Musa bin Imran. Ia pernah meminta ijin kepadanya, namun tidak diijinkan oleh Musa. Yaitu tentang pertanyaannya tentang takdir, ia pergi sambil berkata: "Seratus kali kematian lebih ringan bagiku daripada kehinaan sekejap."

Ungkapan ini senada dengan isi sebuah syair:

Terkadang seseorang bersabar menghadapi sebuah pedang

Dan kesabaran tersebut mengalahkan rasa takut

Kematian berbekas pada kondisinya

Dan akan melemahkannya untuk menghormati tamu

Adapun yang diriwayatkan oleh Ibnu Asakir dan yang lainnya dari Ibnu Abbas, Nauf al Bukkaliy, Sufyan ats Tsauriy dan lainnya bahwasanya Uzair pernah bertanya tentang takdir lalu namanya dihapus dari deretan para Nabi, maka riwayat ini adalah munkar. Seakan-akan terinspirasi dari kisah israiliyaat.

Abdur Razzaq dan Qutaibah bin Sa'id telah meriwayatkan dari Ja'far bin Sulaiman dari Ibnu Imran al Juniy dari Nauf al Bukkaliy, ia berkata: "Wahai Rabbku, Engkau menciptakan manusia Engkau sesatkan siapa yang Engkau kehendaki dan Engkau beri petunjuk kepada siapa yang Engkau kehendaki?" Dikatakan kepadanya: "Apakah kamu menolak atas hal ini ?" Kemudian Uzair mengulanginya lagi dan dikatakan kepadanya: "Apakah kamu menolak hal ini, atau Aku akan menghapus namamu dari deretan para Nabi? Aku tidak ditanya tentang apa yang Aku lakukan namun merekalah yang akan ditanya.

Hal ini bukan berarti terjadinya apa yang telah diancamkan baginya sekiranya ia mengulangi pertanyaannya sehingga namanya menjadi terhapus. Wallahu a'lam.

Para ulama telah meriwayatkan selain at Tirmidzi dari Anas bin Yazid dari az Zuhriy dari Sa'id dan Abu Salamah dari Abu Hurairah. Demikian halnya yang diriwayatkan oleh Syu'aib dari Abu Zinad dari al A'raj dari Abu Hurairah ia berkata: "Rasulullah SAW bersabda: "Seorang Nabi pernah singgah di bawah sebuah pohon, lalu seekor semut menggigitnya. Ia memerintahkan untuk mengambil perbekalannya lalu ia mengeluarkan semut tadi dari bawah pohon kemudian memerintahkan untuk membakar semut tadi dengan api. Maka Allah mewahyukan kepadanya: "Bukankah hanya seekor semut."

Ishaq bin Bisyr meriwayatkan dari Ibnu Juraij dari Abdul Wahb bin Mujahidn dari ayahnya bahwasanya Nabi tersebut adalah Uzair. Demikian halnya yang diriwayatkan dari Ibnu Abbas dan al Hasan al Bashri bahwa Nabi tersebut adalah Uzair. Wallahu A'lam.(diambil dari kisah para Nabi & Rasul)

Shaf sholat


Merapikan Shaf dalam Shalat Berjama'ah

 

Shaf, adalah barisan kaum muslimin dalam sholat berjamaah. Salah satu kesempurnaan sholat berjama'ah adalah tergantung pada kesempurnaan shaf. Baginda Rasulullah Shallallahu 'Alaihi Wasallam sangat menganjurkan serta menjaga kerapian dan kesempurnaan shaf. Sedemikian pentingnya hal ini sehingga beliau tidak akan memulai sholat jama'ah jika shaf-shaf para shahabat Radhiyallahu 'Anhu belum tersusun rapi terlebih dahulu.
Dalam sebuah hadis dari Bara' bin Azib Ra., dia telah berkata: "Rasulullah biasa meneliti celah-celah shaf dari satu sisi ke sisi lainnya. Beliau mengusap dada-dada dan bahu-bahu kami seraya bersabda: "Janganlah kamu berselisih karena hal itu dapat menyebabkan hati kamu berselisih juga. Dan beliau bersabda lagi: "Sesungguhnya Allah 'Azza Wajalla dan para malaikat-Nya memberikan rahmat kepada shaf-shaf yang paling depan" (HR. Imam Abu Dawud).
Dari keterangan hadis di atas teranglah bagi kita bahwa merapikan shaf itu dengan merapatkan bahu, yakni menghilangkan celah-celah antara bahu dengan bahu, sehingga rapat satu dengan yang lainnya seumpama tembok yang kokoh.
Hari ini, ada segelintir umat Islam yang berfaham bahwa merapikan shaf adalah dengan merapatkan kaki-kaki, dan bukan bahu. Untuk itu, mereka mengangkangkan kaki-kaki mereka lebar-lebar agar mata kaki mereka merapat satu dengan yang lainnya. Hal ini tidak pernah diajarkan nabi kepada kita. Tidak ada dikatakan di dalam hadis bahwa  sebelum memulai sholat berjama'ah, nabi memeriksa shaf-shaf seraya mengusap-usap tumit dan mata kaki para shahabat. Tetapi yang ada di dalam hadis-hadis adalah nabi mengusap dan meratakan bahu serta dada para shahabat, bukan tumit dan bukan pula mata kaki!  
Dalam kenyataannya, jika posisi kaki yang dilebarkan,  kemudian dirapatkan antara sesama mata kaki, maka menjadi rengganglah bahu-bahu para jama'ah antara satu dengan yang lainnya. Dengan demikian menjadi berselisihlah para individu yang ada dalam shaf-shaf  itu satu dengan lainnya.  Hal ini justru sangat dilarang oleh nabi Muhammad junjungan kita itu.
Dalam satu hadis yang lain Rasulullah bersabda: "Luruskanlah shaf-shaf kamu dan sejajarkanlah bahu-bahu kamu, bersikap lemah lembutlah terhadap tangan-tangan saudara kamu, serta rapatkanlah celah-celah yang kosong, karena sesungguhnya syaitan menyusup di antara kamu seperti seekor anak kambing kecil" (HR. Ahmad dan Thabrani).
Keterangan hadis di atas sangat nyata bagi kita bahwa menyempurnakan shaf adalah dengan meluruskan dan merapatkan bahu serta menutup celah-celah yang terbuka. Para ulama mengajarkan kepada kita agar shaf menjadi rapat dan sempurna, maka kaki tidak boleh dibuka lebar-lebar, karena dapat menyebabkan renggangnya bahu. Yang paling baik adalah dengan membuka kaki sekitar satu jengkal saja. Dengan demikian lebar kaki akan sejajar dengan lebar bahu, sehingga dengan demikian menjadi rapatlah kaki-kaki jama'ah sebagaimana rapatnya bahu-bahu mereka.
Imam 'Aini dalam kitabnya Sarah Sunan Abu Dawud, Jilid III, halaman 217,  menjelaskan sabda nabi: "Bersikap lemah lembutlah terhadap tangan-tangan saudara kamu". Maksudnya adalah bila seseorang datang dan masuk ke dalam shaf sebaiknya masing-masing orang melembutkan dan melenturkan kedua bahunya sehingga orang yang baru masuk ke dalam shaf tersebut dapat dengan mudah dan nyaman mengikuti sholat berjama'ah.
Keterangan di atas membuktikan bahwa sholat berjama'ah itu dilakukan dengan lembut dan lentur tidak berdiri kokoh kaku dan tegap seperti robot besi. Perilaku sholat seperti ini buruk adanya. Dan, tidak dapat dipungkiri bahwa akhir-akhir ini sudah terlihat banyak juga orang yang sholat seperti robot itu, tegak, kaku, keras dengan kaki mengangkang lebar. Semoga Allah menunjuki mereka……. Amin…….!
Selanjutnya,  ada banyak hadis nabi yang memerintahkan kita untuk merebut shaf pertama karena besarnya rahmat Allah yang tercurah pada shaf pertama dalam sholat berjama'ah. Di antaranya hadis dari Irbath bin Syariah
Radhiyallahu 'Anhuma bahwasanya Rasulullah Shallallahu 'Alaihi Wasallam biasa berdoa memohonkan ampun untuk shaf pertama sebanyak tiga kali, dan untuk shaf kedua, beliau memohonkan ampun sebanyak satu kali saja(HR. Ibnu Majah, Ahmad dan Thabrani).
Dalam hadis yang lain Rasulullah bersabda: "Sebaik-baik shaf bagi laki-laki adalah shaf yang pertama dan shaf yang terburuk bagi laki-laki adalah yang terakhir, sedangkan bagi perempuan shaf yang terbaik adalah shaf yang terakhir, dan yang paling buruk bagi perempuan adalah shaf yang pertama." (H.R. Muslim, Bab Meluruskan Shaf, nomor 985).
Dalam sholat berjamaah sangat penting untuk menjaga agar shaf tidak terputus. Dengan demikian jika ada celah yang merenggang ketika sholat berjama'ah sedang berlangsung,  disunnahkan bagi kita untuk bergeser sedikit untuk merapatkan shaf yang merenggang itu. Bergeser merapatkan shaf adalah mengarah ke tengah tempat imam berdiri. Orang yang melakukan amalan untuk menutup celah yang muncul saat shalat berjama'ah akan diberi pahala dan diberi rahmat kepada Allah Subhanahu Wata'ala, sesuai dengan sabda nabi: "Barangsiapa mengisi celah dalam shaf sholat berjama'ah, maka diampuni Allah dosa-dosanya". (HR. Al Bazar, Hasan Shohih, Majmu' Azzawaid, Jilid II, Halaman 251).
Dalam hadis yang lain Rasulullah bersabda: "Barangsiapa menyambung shaf maka Allah akan menyambung hubungan kasih sayang kepadanya dan barangsiapa memutuskan shaf, maka Allah akan memutuskan hubungan dengannya" (HR. Abu Dawud)
Di dalam hadis lain lagi dari Abdullah bin Umar dia berkata Rasulullah telah bersabda: "Sebaik-baik orang di antara kamu adalah orang yang paling lembut bahunya dalam sholat berjamaah. Dan tidak ada langkah yang lebih besar pahalanya dari pada langkah yang diayunkan seorang lelaki menuju celah yang terdapat pada sebuah shaf,  kemudian orang itu menutup celah tersebut" (HR. Al Bazar dan Thabrani, Hasan)
Hadis di atas menjelaskan betapa dalam sholat berjama'ah umat Islam diperintahkan oleh nabi untuk melembutkan bahunya, bukan sebaliknya malah mengeraskan bahu dan mengokohkan kaki lebar-lebar seperti robot besi yang kaku. Hadis di atas juga menjelaskan boleh melangkah sedikit untuk menutup celah yang muncul dalam shaf sholat berjamaah. Imam Syafi'i masih mengizinkan menggerakkan anggota tubuh yang besar asal jangan sampai tiga kali berturut-turut. Menggerakkan dengan sengaja anggota tubuh yang besar tiga kali berturut-turut dapat membatalkan sholat.
Adapun orang yang batal wudhu' dan sholatnya karena berhadas kecil ketika sedang mengerjakan sholat berjamaah, disunatkan duduk pada tempat sholatnya dan tidak menerjang shaf-shaf kaum muslimin, yang sedang berjama'ah bersamanya. Orang itu tidak dihitung memutuskan shaf walau terhenti dari sholatnya dan duduk di tempat sholatnya itu, sementara jama'ah lain terus menyelesaikan sholat mereka. Alam hal ini, seolah-olah orang yang batal sholatnya itu dianggap sebagai tiang dalam masjid tersebut. Bagaimanapun seorang muslim yang berhadas kecil tidaklah najis keberadaannya.
Selanjutnya jika sholat berjama'ah telah selesai dilaksanakan, maka orang yang berhadas itu dapat segera berwudhu' lagi, untuk kemudian mengulangi sholatnya yang batal tadi secara sendirian. Adapun pahala yang akan diterimanya tetap sebesar 27 derajat karena dia dianggap tetap dalam jamaah, walaupun pada kenyataannya dia terluput dari sholat jama'ahnya sebab hadas kecil yang menerpa dirinya itu. Hal ini telah pun ditegaskan oleh nabi dalam beberapa hadis yang shohih.
Wallahu a'lam bishawab

  

Sholawat kepada nabi

Sholawat Kepada Nabi dengan Cara yang Beradab


 

Pada zaman sahabat dahulu, mereka terbiasa memanggil Nabi dengan sebutan yang sederajat seperti memanggil kawan-kawan mereka. Panggilan yang paling popular adalah 'Ya Muhammad, Ya Ibnu Abdullah, Ya Muhammad bin Abdullah, dan Ya Abal Qosim' (Wahai bapak Al Qosim, menunjuk kepada putera Nabi yang tertua bernama Al Qosim). Kebiasaan memanggil nama sederajat seperti panggilan sesama teman, kemudian dilarang oleh Allah Subhanahu Wa Ta'ala. Panggilan yang diperbolehkan adalah menyertakan pangkat yang layak untuk Nabi seperti: 'Ya Rasulullah, Ya Nabiyallah'. (Lihat surat An Nur ayat 63 dalam Tafsir Ibnu Katsir, cetakan Darul Hadist, Qohirah, Mesir jilid VI, halaman 100).

Dalam tafsir Ibnu Katsir tersebut, Muqotil bin Hayyan mengatakan tentang tafsir ayat ini: "Janganlah engkau menyebut nama Nabi Muhammad jika memanggil Beliau dengan ucapan: 'Ya Muhammad' dan janganlah kalian katakan: 'Wahai anak Abdullah', akan tetapi Agungkanlah Beliau dan panggillah oleh kamu: 'Ya Nabiyallah, Ya Rasulullah'."

Imam Maliki, dari Zaid bin Aslam radhiyallahu 'anhu mengatakan tentang arti surah An Nur ayat 63 di atas: "Telah memerintahkan Allah kepada sahabat Nabi dan kaum muslimin agar mengagungkan dan memuliakan Nabi."

Berkata Ad Dahhak dan Abdullah bin Abbas radhiyallahu 'anhuma tentang ayat diatas: "Dahulu para sahabat memanggil Nabi dengan panggilan 'Ya Muhammad, Ya Abal Qosim', maka Allah Subhanahu Wa Ta'ala telah melarang mereka dari panggilan seperti itu demi mengagungkan Nabi-Nya. Maka para sahabat memanggil Nabi dengan panggilan 'Ya Rasulullah, Ya Nabiyallah'." Pendapat ini juga dipegang oleh Mujahid dan Sa'id bin Jubair radhiyallahu 'anhu."

Setelah larangan Allah tersebut diturunkan, maka serentak seluruh sahabat Nabi meninggalkan cara menyebut atau memanggil nama Nabi seperti memanggil teman biasa, dan mereka mengubahnya menjadi 'panggilan kehormatan', sebagaimana yang telah diperintahkan Allah Subhanahu Wa Ta'ala dalam surat An Nur ayat 63 tersebut: "Janganlah kamu jadikan panggilan Rasul di antara kamu seperti panggilan sebahagian kamu kepada sebahagian (yang lain)....."

Meskipun keterangan di atas sudah terang dan jelas, kenyataannya di zaman modern ini, masih ada juga sekelompok orang yang sudah dianggap golongan 'intelektual Islam' berani dengan lancar tanpa merasa bersalah menyebut dan memanggil nama Nabi tanpa gelar kehormatan. Entah karena terlalu sering membaca buku-buku karangan orang-orang Orientalis yang memang tidak menaruh rasa hormat kepada Rasulullah atau karena malas berpanjang-panjang menyebutkan nama Nabi bersama dengan 'gelar kebesaran' beliau. Apalagi jika mesti menambahkan ucapan 'Shallallahu 'Alaihi Wasallam' setelah menyebut nama Nabi. Padahal, semua ini sudah diperintah Allah dan RasulNya untuk diamalkan.

Adapun jika mereka dianggap tidak tahu tentang larangan pada surat An Nur ayat 63 tersebut di atas, rasanya agak sulit diterima akal, sebab mereka dikenal sebagai orang yang tergolong intelektual, bukan golongan orang-orang awam apalagi orang-orang jahil (bodoh).

Dengan melihat kenyataan ini, rasanya setiap individu muslim wajib saling ingat-mengingatkan terhadap sesama saudara kita yang mulai rajin memanggil Nabi sedemikian itu. Jika tidak demikian, maka akan semakin banyak jumlah orang yang memanggil Nabi dengan panggilan rendahan itu. Apakah pantas kita umat Islam yang mengaku pengikut Qur'an dan Sunnah kemudian memanggil Nabi kita dengan panggilan "Muhammad" saja tanpa gelar…? Sementara memanggil seorang Ketua RT saja kita menyebut Pak RT. Apalagi memanggil seorang Presiden, orang akan melekatkan bermacam-macam gelar kehormatan dan kemuliaan! Nah, bagaimana dengan memanggil seorang Rasul yang merupakan semulia-mulia makhluk ciptaan Allah....?

Rasul telah bersabda dalam hadisnya yang masyhur: "orang yang kikir adalah orang yang tidak mau bersholawat kepadaku ketika namaku disebut di dekatnya." Sementara Allah sendiri di dalam Al Qur'an yang suci senantiasa bersholawat dengan meletakkan pangkat kebesaran Nabi ketika Allah menyebutkan nama Nabi kita Muhammad Shallallahu 'Alaihi Wasallam.

Selain kebiasaan memanggil Nabi dengan 'panggilan rendahan' itu, akhir-akhir ini beredar juga sebuah ajaran baru yang mengatakan bahwa menyebut atau memanggil nama Nabi dengan memakai 'gelar' di dalam lafazh sholawat adalah suatu perbuatan bid'ah. Dan mereka dimana-mana secara tegas mengatakan bahwa semua bid'ah adalah sesat dan akan dicampakkan ke dalam neraka. Oleh karena itu mereka mengatakan bersholawat kepada Nabi cukup dengan ucapan, "Allahumma sholli 'ala Muhammad, wa 'ala ali Muhammad" saja tanpa gelar-gelar yang menunjukkan kebesaran Nabi. Padahal kalau Sholawat ini diterjemahkan  dalam bahasa Indonesia, artinya adalah: "Ya Allah berilah rahmat kepada si Muhammad dan Keluarga si Muhammad". Kurang beradab, bukan.....? Alasan mereka bershalawat seperti itu karena tidak ada didapati sepotong hadis pun dari Nabi Muhammad Shallallahu 'Alaihi Wasallam yang mengajarkan bersholawat dengan menyertakan 'gelar' pada nama Nabi

Benarkah demikian adanya…?

Kami mencoba meneliti beberapa potong hadis dari beberapa kitab hadis dan alhamdulillah kami menemukannya. Berikut ini kami sampaikan beberapa hadis tentang sholawat yang memakai gelar saat menyebut nama Nabi kita Muhammad Shallallahu 'Alaihi Wasallam:

  1. Dari Abu Sa'id Al Khudri ra.hu dia berkata, kami pernah bertanya kepada Nabi SAW, "Wahai Rasulallah, kami telah mengetahui cara mengucapkan salam kepadamu, tetapi bagaimanakah cara kami bersholawat kepadamu?" Rasulullah Shallallahu 'Alaihi Wasallam menjawab: "Ucapkanlah oleh kamu sekalian, "Allahumma sholli 'ala Muhammadin 'abdika wa rasulika kama shollaita 'ala Ibrohim..( Ya Allah, limpahkanlah rahmatMu kepada Muhammad hamba-Mu dan Rasul-Mu sebagaimana Engkau telah melimpahkan rahmat-Mu kepada Ibrohim..)." (Hadis Riwayat Bukhari, Bab Sholawat Atas Nabi Shallallahu 'Alaihi Wasallam no.6358).
  2. Dari Abu Hurairah ra.hu, dari Nabi Shallallahu 'Alaihi Wasallam, beliau telah bersabda, "Barangsiapa ingin pahalanya ditimbang dengan timbangan yang lebih berat dan sempurna ketika bersholawat atas kami, dan bersholawat atas ahli bait kami, hendaklah orang itu mengucapkan sholawat seperti ini: "Allahumma sholli 'ala Muhammadinin Nabiyyi wa azwajihi ummahatil mu'miniina wadzuriyyatihi wa ahli baitihi kama shollayta 'ala ali Ibrohim innaka hamiidun majid" (Ya Allah, limpahkanlah rahmatMu kepada Muhammad sang Nabi itu, juga kepada isteri-isterinya sebagai ibu-ibunya orang mu'min, kepada keturunan beliau dan keluarga beliau sebagaimana Engkau telah melimpahkan rahmat-Mu kepada keluarga Ibrohim. Sesungguhnya Engkau Maha Terpuji lagi Maha Mulia)." (Hadis Riwayat Abu Dawud, Bab Sholawat Atas Nabi Shallallahu 'Alaihi Wasallam Dalam Sholat Setelah Tasyahhud, nomor 982).

Keterangan dua hadis di atas cukup untuk menjadi bukti bagi kita bahwa bersholawat dengan menyertakan pangkat ketika menyebut nama Nabi adalah sebuah perbuatan yang sunnah, bukan bid'ah, sebagaimana yang sering dituduhkan oleh segelintir orang di kalangan ummat Islam selama ini. Justru sholawat dengan memakai gelar telah diperintahkan oleh Nabi dalam hadis-hadis shohih, bahkan telah menjadi amalan para Sahabat, dan generasi Salafus Sholih.   

Wallahu a'lam bishshowab

adzan


Adzan Bukan Hanya Untuk Panggilan Sholat

Permasalahan

Ada beberapa kelompok manusia yang mengatakan bahwa seruan adzan itu hanya khusus untuk memanggil sholat saja, tidak boleh untuk yang lain. Sementara sebahagian kaum muslimin yang lain berpendapat bahwa adzan dapat juga dilakukan pada beberapa hal yang selain panggilan untuk menunaikan sholat fardhu yang lima waktu.
Masalah ini memunculkan kebimbangan dan perdebatan di tengah-tengah umat Islam belakangan ini. Apalagi dengan banyaknya beredar buku-buku dan siaran-siaran da'wah melalui media elektronik yang terkadang agak keras menyerang kaum muslimin yang berbeda faham dari mereka, dengan berbagai cercaan; mulai dari tuduhan pemakaian hadits yang statusnya dhoif, tuduhan sebagai amalan sesat dan bid'ah, bahkan sampai dengan ancaman neraka segala. Dengan demikian maka keresahan umat menjadi semakin meluas dan tajam.
Benarkah seruan adzan itu hanya untuk memanggil kaum muslimin melaksanakan sholat? Adakah manfaat yang lain di luar itu? Sebagai jawaban atas masalah yang sering ditanyakan maka berikut ini adalah kumpulan beberapa dalil dari ayat-ayat Al Qur'an, hadis Nabi, dan Fatwa Ulama tentang kegunaan adzan dalam Islam.
Pengertian Adzan

Berkata Azhari, seorang ahli bahasa Arab, tentang asal kata adzan : adzdzana al muadzdzinu ta'dziinan wa adzaanan yaitu memberitahu manusia akan masuknya waktu sholat. Maka adzan itu diletakkan dalam bentuk isim tetapi berfungsi sebagai mashdar, yang dalam bahasa bahasa Indonesia bermakna panggilan di waktu sholat. (Lihat Majmu' Syarah Muhadzdzab Imam Nawawi Jilid 4, halaman 121 cetakan Abbaz bin Ahmad al Baz – Makkah Al Mukarromah).
Kegunaan Adzan

1. Memanggil Sholat

Adzan diperintahkan untuk memanggil umat Islam sebagai tanda masuknya waktu sholat.  Hal ini sudah masyhur (terkenal) di kalangan umat Islam dan tidak ada khilaf, perbedaan pendapat  antara kaum muslimin tentang hal ini. Semuanya sepakat dalam hal bahwa adzan digunakan untuk panggilan sholat.
     Dalil-dalil Qur'an tentang ini adalah;
  • Surat al Jumu'ah ayat 9: "Hai orang-orang beriman, apabila diseru untuk menunaikan shalat Jum'at, Maka bersegeralah kamu kepada mengingat Allah dan tinggalkanlah jual beli. yang demikian itu lebih baik bagimu jika kamu mengetahui."
  • Surat al-Maidah ayat 58 : "dan apabila kamu menyeru (mereka) untuk (mengerjakan) sembahyang, mereka menjadikannya buah ejekan dan permainan. yang demikian itu adalah karena mereka benar-benar kaum yang tidak mau mempergunakan akal."
     Adapun dalil-dalil hadis tentang hal ini adalah;
  • Dari Abdullah bin Zaid bin Abduh Rabihi radhiyallahu 'anhu berkata dia, "Manakala Rasulullah telah memerintahkan untuk memakai lonceng yang dibunyikan bagi memanggil manusia untuk berkumpul melaksanakan sholat berjamaah, telah berkeliling kepadaku seorang lelaki yang sedang memegang sebuah lonceng ditangannya, pada saat itu aku sedang tidur (bermimpi). Aku berkata, "Wahai hamba Allah apakah engkau menjual lonceng?" orang itu berkata," Untuk apa lonceng bagimu?" Aku berkata, "Kami mau memanggil manusia untuk melakukan sholat dengan lonceng itu." Kemudian orang yang dalam mimpi itu berkata, " Maukah engkau aku tunjukkan sesuatu yang lebih baik daripada memukul lonceng?" lalu aku menjawab, "iya." Maka orang itu berkata lagi ucapkan olehmu, "Allahu Akbar 4x ..(dan seterusnya sampai selesai kalimat adzan lengkap - pen). Kemudian orang itu mundur tidak jauh daripadaku dan dia berkata, "Jika engkau telah selesai sholat (sunat) maka ucapkanlah Allahu Akbar 2x ….. (bacaan iqomat sampai selesai – pen). Setelah aku terbangun di subuh hari, aku mendatangi Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam dan menceritakan tentang mimpiku. Maka Rasulullah bersabda, "Sesungguhnya mimpimu adalah mimpi yang benar, Insya Allah." Maka berdirilah bersama Bilal dan ajarkanlah kepada Bilal tentang mimpimu itu agar Bilal beradzan seperti itu, karena suara Bilal lebih baik dari suaramu. Maka aku berdiri bersama Bilal dan mengajarkan seruan adzan itu secara perlahan sementara Bilal menyerukan suara adzan itu dengan keras. Maka telah mendengar Umar bin Khatab di rumahnya akan seruan adzan Bilal tersebut, kemudian beliau segera keluar dari rumahnya sambil menyandang selendangnya. Umar berkata, "Demi Allah yang telah mengutus Engkau ya Rasul dengan haq, sungguh aku telah melihat dalam mimpiku serupa dengan yang dialami Abdullah bin Zaid itu. Maka Rasulullah menjawab, "Bagi Allah sajalah segala puji ."(HR. Tarmidzi dan Abu Dawud, sanad yang shohih).

 

2.  Adzan dan Iqomat Pada Anak yang Baru Lahir

   Disunnatkan juga mengadzankan anak yang baru lahir pada telinga kanannya dan mengiqomatkan anak tersebut pada telinga kirinya, seperti adzan dan iqomat pada sholat 5 waktu. Tidak berbeda perlakuan adzan dan iqomat ini kepada anak laki-laki ataupun anak perempuan. Hal ini disandarkan pada beberapa hadis antara lain;
  • Dari Abi Rofi' radhiyallahu 'anhu berkata, "Aku pernah melihat Rasulullah mengadzankan Sayyidina Husain di telinganya pada saat Sayyidina Husain baru dilahirkan oleh Sayyidatuna Fatimah dengan bacaan adzan untuk sholat ." (HR. Ahmad, Abu dawud, Tarmidzi, dishohihkannya).
  • Dari Abi Rofi' berkata dia, "Aku pernah melihat Nabi melakukan adzan pada telinga Al Hasan dan Al Husain radhiyallahu 'anhuma." (HR. Thabrani).
  • "Barangsiapa yang kelahiran seorang anak, lalu anaknya diadzankan pada telinganya yang sebelah kanan serta di iqomatkan pada telinga yang kiri, niscaya tidaklah anak tersebut diganggu oleh Ummu Shibyan (HR. Ibnu Sunni, Imam Haitsami menuliskan riwayat ini pada Majmu' Az Zawaid, jilid 4,halaman 59). Menurut pensyarah hadis,  Ummu Shibyan adalah jin wanita yang selalu mengganggu dan mengikuti anak-anak bayi. Di Indonesia terkenal dengan sebutan kuntilanak atau kolong wewe.
  • Di dalam kitab Majmu Syarah Muhaddzab, Imam Nawawi meriwayatkan sebuah riwayat yang dikutip dari para ulama Syafi'i, bahwa Khalifah Umar bin Abdul Aziz radhiyallahu 'anhu pernah melakukan adzan dan iqomat pada anaknya yang baru lahir.
      Dari keterangan ini jelaslah bagi kita bahwa perkataan orang yang selama ini mengatakan amalan mengadzankan anak yang baru lahir hanya disandarkan pada hadits-hadits dhoif belaka, adalah tidak benar sama sekali!
      Selain dua hal tersebut di atas, para ulama Madzhab Syafi'i mengumpulkan dalil-dalil akan adanya manfaat adzan yang lain. Salah satunya saya kutipkan dari kitab Fathul Mu'in karangan Syaikh Zainuddin al Malibari, juga telah  disyarahkan keterangannya dalam I'anatut Thalibin oleh Syaikh Sayyid Abi Bakri Syatho', jilid 2 halaman 268, cetakan Darul Fikri.
       Dalam kitab Fathul Mu'in itu disebutkan, "Dan telah disunnatkan juga adzan untuk selain keperluan memanggil sholat, beradzan pada telinga orang yang
sedang berduka cita, orang yang ayan (sakit sawan), orang yang sedang marah, orang yang jahat akhlaknya, dan binatang yang liar atau buas, saat ketika terjadi kebakaran, saat ketika jin-jin memperlihatkan rupanya yakni bergolaknya kejahatan jin, dan adzan serta iqomat pada telinga anak yang baru lahir, dan saat orang musafir memulai perjalanan."

Keterangan;
Sudah umum diketahui bahwa orang yang sedang marah, berakhlak buruk, binatang liar umumnya terpengaruh oleh gangguan syaitan atau jin, maka adzan pada hal-hal demikian itu, menyebabkan syaitan /jin yang mengganggu akan lari sampai terkentut-kentut bila mendengar adzan (H.R. Bukhari Muslim).
Adapun mengadzankan mayat ketika dimasukkan ke dalam kubur adalah masalah khilafiyah; Sebagian ulama mengatakan sunnat dan sebagian lagi mengatakan tidak sunnat. Di antara ulama kita yang berpendapat tidak sunnat mengadzankan mayat adalah Syaikh Ibnu Hajar al Haitami rahimahullahu ta'ala,  namun demikian, tidak dapat dikatakan sebagai perbuatan bid'ah sesuatu perkara yang statusnya khilafiyah.

 

Wallahu a'lam bisshowab

Kamis, 03 Desember 2009

3 Pertanyaan Pemuda

Ada seorang pemuda yang lama sekolah di negeri Sam kembali ke tanah air. Sesampainya di rumah ia meminta kepada orang tuanya untuk mencari seorang Guru agama, siapapun boleh menjawab 3 pertanyaannya. Akhirnya Orang tua pemuda itu mendapatkan seorang guru tersebut. “Anda siapa? Dan apakah anda bisa menjawab pertanyaan-pertanyaan saya?”

Pemuda bertanya. “Saya hamba Allah dan dengan izin-Nya saya akan menjawab pertanyaan saudara.” Jawab Guru Agama. “Anda yakin? sedangkan Profesor dan banyak orang pintar saja tidak mampu menjawab pertanyaan saya.” Jawab Guru Agama “Saya akan mencoba sejauh kemampuan saya” Pemuda : “Saya punya 3 pertanyaan;

  1. Kalau memang Tuhan itu ada, tunjukan kewujudan Tuhan kepada saya
  2. Apakah yang dimaksudkan dengan takdir?
  3. Kalau syaitan diciptakan dari api kenapa dimasukan ke neraka yang dibuat dari api?, tentu tidak menyakitkan buat syaitan, sebab mereka memiliki unsur yang sama. Apakah Tuhan tidak pernah berfikir sejauh itu?”

Tiba-tiba Guru Agama tersebut menampar pipi si Pemuda dengan kuat. Sambil menahan kesakitan pemuda berkata “Kenapa anda marah kepada saya?” Jawab Guru Agama “Saya tidak marah … Tamparan itu adalah jawaban saya kepada 3 pertanyaan yang anda ajukan kepada saya”.

“Saya sungguh-sungguh tidak faham”, kata pemuda itu. Guru Agama bertanya “Bagaimana rasanya tamparan saya?”. “Tentu saja saya merasakan sakit”, jawab beliau. Guru Agama bertanya ” Jadi anda percaya bahawa sakit itu ada?”. Pemuda itu mengangguk tanda percaya. Guru Agama bertanya lagi, “Tunjukan pada saya wujud sakit itu!” “Tentu saja saya tidak bisa”, jawab pemuda. “Itulah jawaban pertanyaan pertama. Kita semua merasakan kewujudan Tuhan tanpa mampu melihat wujudnya.” Terang Guru Agama. Guru Agama bertanya lagi, “Apakah tadi malam anda bermimpi akan ditampar oleh saya?”. “Tidak” jawab pemuda. “Apakah pernah terfikir oleh anda akan menerima sebuah tamparan dari saya hari ini?” “Tidak” jawab pemuda. “Itulah yang dinamakan Takdir” Terang Guru Agama. Guru Agama bertanya lagi, “Terbuat dari apa tangan yang saya gunakan untuk menampar anda?”. “kulit”. Jawab pemuda. “Pipi anda diperbuat dari apa?” “ Kulit “ Jawab pemuda. “Bagaimana rasanya tamparan saya?”. “Sakit.” Jawab pemuda. “Walaupun Syaitan terbuat dari api dan Neraka terbuat dari api, jika Tuhan berkehendak maka Neraka akan menjadi tempat menyakitkan untuk syaitan.” Terang Guru Agama.

Jumat, 27 November 2009

DIAM

Dalam upaya mendewasakan diri kita, salah satu langkah awal yang harus kita pelajari adalah bagaimana menjadi pribadi yang berkemampuan dalam menjaga juga memelihara lisan dengan baik dan benar. Sebagaimana yang disabdakan Rasulullah saw, "Barangsiapa yang beriman kepada Allah dan hari akhir hendaklah berkata benar atau diam.", hadits diriwayatkan oleh Bukhari.

1. Jenis-jenis Diam
Sesungguhnya diam itu sangat bermacam-macam penyebab dan dampaknya. Ada yang dengan diam jadi emas, tapi ada pula dengan diam malah menjadi masalah. Semuanya bergantung kepada niat, cara, situasi, juga kondisi pada diri dan lingkungannya. Berikut ini bisa kita lihat jenis-jenis diam:

a. Diam Bodoh
Yaitu diam karena memang tidak tahu apa yang harus dikatakan. Hal ini bisa karena kekurangan ilmu pengetahuan dan ketidakmengertiannya, atau kelemahan pemahaman dan alasan ketidakmampuan lainnya. Namun diam ini jauh lebih baik dan aman daripada memaksakan diri bicara sok tahu.

b. Diam Malas
Diam jenis merupakan keburukan, karena diam pada saat orang memerlukan perkataannya, dia enggan berbicara karena merasa sedang tidak mood, tidak berselera atau malas.

c. Diam Sombong
Ini pun termasuk diam negatif karena dia bersikap diam berdasarkan anggapan bahwa orang yang diajak bicara tidak selevel dengannya.

d. Diam Khianat
Ini diamnya orang jahat karena dia diam untuk mencelakakan orang lain. Diam pada saat dibutuhkan kesaksian yang menyelamatkan adalah diam yang keji.

e. Diam Marah
Diam seperti ini ada baiknya dan adapula buruknya, baiknya adalah jauh lebih terpelihara dari perkataan keji yang akan lebih memperkeruh suasana. Namun, buruknya adalah dia berniat bukan untuk mencari solusi tapi untuk memperlihatkan kemurkaannya, sehingga boleh jadi diamnya ini juga menambah masalah.

f. Diam Utama (Diam Aktif)
Yang dimaksud diam keutamaan adalah bersikap diam hasil dari pemikiran dan perenungan niat yang membuahkan keyakinan bahwa engan bersikap menahan diri (diam) maka akan menjadi maslahat lebih besardibanding dengan berbicara.

2. Keutamaan Diam Aktif

a. Hemat Masalah
Dengan memilih diam aktif, kita akan menghemat kata-kata yang berpeluang menimbulkan masalah.

b. Hemat dari Dosa
Dengan diam aktif maka peluang tergelincir kata menjadi dosapun menipis, terhindar dari kesalahan kata yang menimbulkan kemurkaan Allah.

c. Hati Selalu Terjaga dan Tenang
Dengan diam aktif berarti hati akan terjaga dari riya, ujub, takabbur atau aneka penyakit hati lainnya yang akan mengeraskan dan mematikan hati kita.

d. Lebih Bijak
Dengan diam aktif berarti kita menjadi pesdengar dan pemerhati yang baik, diharapkan dalam menghadapi sesuatu persoalan, pemahamannya jauh lebih mendaam sehingga pengambilan keputusan pun jauh lebih bijak dan arif.

e. Hikmah Akan Muncul
Yang tak kalah pentingnya, orang yang mampu menahan diri dengan diam aktif adalah bercahayanya qolbu, memberikan ide dan gagasan yang cemerlang, hikmah tuntunan dari Allah swtakan menyelimuti hati, lisan, serta sikap dan perilakunya.

f. Lebih Berwibawa
Tanpa disadari, sikap dan penampilan orang yang diam aktif akan menimbulkan wibawa tersendiri. Orang akan menjadi lebih segan untuk mempermainkan atau meremehkan.


Selain itu, diam aktif merupakan upaya menahan diri dari beberapa hal, seperti:

1. Diam dari perkataan dusta
2. Diamdari perkataan sia-sia
3. Diam dari komentar spontan dan celetukan
4. Diam dari kata yang berlebihan
5. Diam dari keluh kesah
6. Diam dari niat riya dan ujub
7. Diam dari kata yang menyakiti
8. Diam dari sok tahu dan sok pintar

Mudah-mudahan kita menjadi terbiasa berkata benar atau diam. Semoga pula Allah ridha hingga akhir hayat nanti, saat ajal menjemput, lisan ini diperkenankan untuk mengantar kepergian ruh kita dengan sebaik-baik perkataan yaitu kalimat tauhiid "laa ilaha illallah" puncak perkataan yang menghantarkan ke surga. Aamiin


(Aa' Gym)

Orang - orang yang Didoakan oleh Malaikat

Allah SWT berfirman, "Sebenarnya (malaikat - malaikat itu) adalah hamba - hamba yang dimuliakan,
mereka tidak mendahului-Nya dengan perkataan dan mereka mengerjakan perintah - perintah-Nya.
Allah mengetahui segala sesuatu yang dihadapan mereka dan yang dibelakang mereka,
dan mereka tidak memberikan syafa'at melainkan kepada orang - orang yang diridhai Allah,
dan mereka selalu berhati - hati karena takut kepada-Nya" (QS Al Anbiyaa' 26-28)

Inilah orang - orang yang didoakan oleh para malaikat :

1. Orang yang tidur dalam keadaan bersuci.
Imam Ibnu Hibban meriwayatkan dari Abdullah bin Umar ra., bahwa Rasulullah SAW bersabda,
"Barangsiapa yang tidur dalam keadaan suci, maka malaikat akan bersamanya di dalam pakaiannya.
Dia tidak akan bangun hingga malaikat berdoa 'Ya Allah, ampunilah hambamu si fulan karena tidur dalam keadaan suci'"
(hadits ini dishahihkan oleh Syaikh Al Albani dalam Shahih At Targhib wat Tarhib I/37)

2. Orang yang duduk menunggu shalat.
Imam Muslim meriwayatkan dari Abu Hurairah ra., bahwa Rasulullah SAW bersabda,
"Tidaklah salah seorang diantara kalian yang duduk menunggu shalat, selama ia berada dalam keadaan suci,
kecuali para malaikat akan mendoakannya 'Ya Allah, ampunilah ia. Ya Allah sayangilah ia'" (Shahih Muslim no. 469)

3. Orang - orang yang berada di shaf bagian depan di dalam shalat.
Imam Abu Dawud (dan Ibnu Khuzaimah) dari Barra' bin 'Azib ra., bahwa Rasulullah SAW bersabda,
"Sesungguhnya Allah dan para malaikat-Nya bershalawat kepada (orang - orang) yang berada pada shaf - shaf terdepan"
(hadits ini dishahihkan oleh Syaikh Al Albani dalam Shahih Sunan Abi Dawud I/130)

4. Orang - orang yang menyambung shaf (tidak membiarkan sebuah kekosongan di dalm shaf).
Para Imam yaitu Ahmad, Ibnu Majah, Ibnu Khuzaimah, Ibnu Hibban dan Al Hakim meriwayatkan dari Aisyah ra.,
bahwa Rasulullah SAW bersabda, "Sesungguhnya Allah dan para malaikat selalu bershalawat kepada orang - orang yang menyambung shaf - shaf"
(hadits ini dishahihkan oleh Syaikh Al Albani dalam Shahih At Targhib wat Tarhib I/272)

5. Para malaikat mengucapkan 'Amin' ketika seorang Imam selesai membaca Al Fatihah.
Imam Bukhari meriwayatkan dari Abu Hurairah ra., bahwa Rasulullah SAW bersabda, "Jika seorang Imam membaca 'ghairil maghdhuubi 'alaihim waladh dhaalinn',
maka ucapkanlah oleh kalian 'aamiin', karena barangsiapa ucapannya itu bertepatan dengan ucapan malaikat, maka ia akan diampuni dosanya yang masa lalu"
(Shahih Bukhari no. 782)

6. Orang yang duduk di tempat shalatnya setelah melakukan shalat.
Imam Ahmad meriwayatkan dari Abu Hurairah, bahwa Rasulullah SAW bersabda, "Para malaikat akan selalu bershalawat kepada salah satu diantara kalian
selama ia ada di dalam tempat shalat dimana ia melakukan shalat, selama ia belum batal wudhunya, (para malaikat) berkata,
'Ya Allah ampunilah dan sayangilah ia'" (Al Musnad no. 8106, Syaikh Ahmad Syakir menshahihkan hadits ini)

7. Orang - orang yang melakukan shalat shubuh dan 'ashar secara berjama'ah.
Imam Ahmad meriwayatkan dari Abu Hurairah ra., bahwa Rasulullah SAW bersabda, "Para malaikat berkumpul pada saat shalat shubuh lalu para malaikat
( yang menyertai hamba) pada malam hari (yang sudah bertugas malam hari hingga shubuh) naik (ke langit), dan malaikat pada siang hari tetap tinggal.
Kemudian mereka berkumpul lagi pada waktu shalat 'ashar dan malaikat yang ditugaskan pada siang hari (hingga shalat 'ashar) naik (ke langit)
sedangkan malaikat yang bertugas pada malam hari tetap tinggal, lalu Allah bertanya kepada mereka,
'Bagaimana kalian meninggalkan hambaku ?', mereka menjawab, 'Kami datang sedangkan mereka sedang melakukan shalat dan kami tinggalkan
mereka sedangkan mereka sedang melakukan shalat, maka ampunilah mereka pada hari kiamat'" (Al Musnad no. 9140, hadits ini dishahihkan oleh Syaikh Ahmad Syakir)

8. Orang yang mendoakan saudaranya tanpa sepengetahuan orang yang didoakan.
Diriwayatkan oleh Imam Muslim dari Ummud Darda' ra., bahwasannya Rasulullah SAW bersabda,
"Doa seorang muslim untuk saudaranya yang dilakukan tanpa sepengetahuan orang yang didoakannya adalah doa yang akan dikabulkan.
Pada kepalanya ada seorang malaikat yang menjadi wakil baginya, setiap kali dia berdoa untuk saudaranya dengan sebuah kebaikan,
maka malaikat tersebut berkata 'aamiin dan engkaupun mendapatkan apa yang ia dapatkan'" (Shahih Muslim no. 2733)

9. Orang - orang yang berinfak.
Imam Bukhari dan Imam Muslim meriwayatkan dari Abu Hurairah ra., bahwa Rasulullah SAW bersabda,
"Tidak satu hari pun dimana pagi harinya seorang hamba ada padanya kecuali 2 malaikat turun kepadanya, salah satu diantara keduanya berkata,
'Ya Allah, berikanlah ganti bagi orang yang berinfak'. Dan lainnya berkata, 'Ya Allah, hancurkanlah harta orang yang pelit'"
(Shahih Bukhari no. 1442 dan Shahih Muslim no. 1010)

10. Orang yang makan sahur.
Imam Ibnu Hibban dan Imam Ath Thabrani, meriwayaatkan dari Abdullah bin Umar ra., bahwa Rasulullah SAW bersabda,
"Sesungguhnya Allah dan para malaikat-Nya bershalawat kepada orang - orang yang makan sahur"
(hadits ini dishahihkan oleh Syaikh Al Albani dalam Shahih At Targhiib wat Tarhiib I/519)

11. Orang yang menjenguk orang sakit.
Imam Ahmad meriwayatkan dari 'Ali bin Abi Thalib ra., bahwa Rasulullah SAW bersabda,
"Tidaklah seorang mukmin menjenguk saudaranya kecuali Allah akan mengutus 70.000 malaikat untuknya yang akan bershalawat kepadanya
di waktu siang kapan saja hingga sore dan di waktu malam kapan saja hingga shubuh" (Al Musnad no. 754, Syaikh Ahmad Syakir berkomentar, "Sanadnya shahih")

12. Seseorang yang mengajarkan kebaikan kepada orang lain.
Diriwayatkan oleh Imam Tirmidzi dari Abu Umamah Al Bahily ra., bahwa Rasulullah SAW bersabda,
"Keutamaan seorang alim atas seorang ahli ibadah bagaikan keutamaanku atas seorang yang paling rendah diantara kalian.
Sesungguhnya penghuni langit dan bumi, bahkan semut yang di dalam lubangnya dan bahkan ikan, semuanya bershalawat kepada orang
yang mengajarkan kebaikan kepada orang lain" (dishahihkan oleh Syaikh Al Albani dalam Kitab Shahih At Tirmidzi II/343)

Maraji' :

Disarikan dari Buku Orang - orang yang Didoakan Malaikat, Syaikh Fadhl Ilahi, Pustaka Ibnu Katsir, Bogor, Cetakan Pertama, Februari 2005